Selasa, 01 Oktober 2019

Mukjizat Al-Qur'an (Prespektif isi)




MAKALAH STUDI AL-QUR’AN
MUKJIZAT AL-QUR’AN (PRESPEKTIF ISI)

Dosen Pengampu  :
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I




Oleh :
Nama : Ulum Nafi’ah
NIM :  B75219080


ILMU KOMUNIKASI
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

2019




KATA PENGANTAR


           Puji Syukur Alhamdulillah senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya-Nya. Sehingga kami dapat menyeleseikan makalah ini dengan sebaik-baiknya berguna untuk memenuhi tugas untuk mata kuliah Studi Al-Qur’an, dengan judul “Mukjizat Al-Qur’an”.
        Makalah ini berisi tentang bukti – bukti kebenaran Al-Qur’an baik itu secara ilmiah maupun sejarah.
                                                                                                                                                                                                                                                                     Surabaya, 21 Agustus 2019

  

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……................................……i
DAFTAR ISI.....................................………………ii
BAB I
MUKJIZAT AL-QUR’AN
A. Kemukjizat Al-Qur’an.....................……...
B.  Kemukjizatan Tasyri’……………………..
C. Kemukjizatan Al-Qur’an dalam sejarah……
D. Kebenaran  yang terdapat di Al-Qur’an tentang laut, 
gunung dan matahari …...................................
KESIMPULAN……………………………………
 DAFTAR PUSTAKA………………………………

BAB I
PEMBAHASAN
A.    Kemukjizatan Al-Qur’an
           Definisi Kata ‘Mukjizat’ artinya sesuatu yang luar biasa yang tiada kuasa manusia membuatnya karena hal itu adalah diluar kesanggupanya.
Mukjizat ini hanya diberikan kepada nabi-nabi untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya,dan bahwa agama yang  dibawanya bukanlah bikinannya sendiri tetapi benar benar dari Allah SWT.
         Kepada nabi-nabi sebelum nabi muhammad saw. Telah diberikan mu’jizat yang banyak dan bermacam macam,seperti tongkat yang diberikan kepada nabi Musa As. Yang dapat menelan semua ular ysng didatangankan tukang sihir  dan dapat membelah laut, sehingga nabi Musa dan kaumnya dapat menyelamatkan diri dari kepungan tentara fir’aun dengan menyeberangi laut yang telah terbelah dua itu.
         
          Demikian pula kepada Nabi Besar Muhammad saw. Telah diberikan  untuk beberapa mukjizat diantaranya Isra’ Mi’raj dalam waktu satu malam sebagai tersebut dalam surat (17) Al-Isra’ ayat 1 dan keluarnya air dari ujung jarinya ketika ketiadaan air.
        
      Tetapi mu’jizat yang terbesar yang dberikan kepada Nabi Muhammad saw adalah Al-Qur’an, suatu mu’jizat yang dapat disaksikan oleh seluruh umat manusia sepanjang masa karena memang beliau diutus oleh Allah untuk keselamatan Manusia dimana dan di masa apapun mereka berada. Oleh sebab itu Allah menjamin keselamatan Al-Qur’an sepanjang masa.
        
      Mu’jizatnya itu terletak pada fashahah dan balaghahnya, keindahan susunan gaya bahasanya yang tidak ada tara bandinganya. Mustahil manusia dapat membuat susunan yang serupa dengan Al-Qur’an, yang dapat menandinginya.
       
    Al-Qur’an  merupakan mukjizat abadi. Sebagai bacaan, Al-Qur’an mengajak serta ikut serta menggugah pembacanya untuk merangkum dan menghimpun objek yang dapat dijangkau pancaindra dan nalarnya.
     
    Maka dapat disimpulkan dari keterangan tersebut bahwa Qur’an itu mukjizat karena ia datang dengan lafadz lafadz yang paling fasih, dalam susunan yang paling indah. [1]

B. Kemukjizatan Tasyri’
       Allah meletakkan dalam diri manusia banyak garizah (naluri, instinct) yang bekerja di dalam jiwa yang mempengaruhi kecenderungan-kecendererungan hidupnya. Jika akal sehat dapat menjaga pemiliknya dari ketergelinciran , maka arus kejiwaan yang bagaimanapun tidak dapat sanggup menahan luapanya.
       Manusia, pada dasarnya adalah makhluk social. Dalam memenuhi kebutuhanya ia memerlukan orang lain dan orang lain pun memerlukanya. Kerja sama antar sesame manusia merupakan tuntutan social yang diharuskan oleh peradapan manusia. Akan tetapi seringkali manusia berlaku zalim terhadap sesamanya,terdorong oleh kecintaan diri dan rasa ingin berkuasa. Maka jika mereka dibiarkan tanpa kendali yang membatasi pergaulanya, mengatur hal ihwal kehidupanya, menjaga hak hak dan memelihara kehormatanya, tentu urusan mereka akan menjadi kacau. Dengan demikian maka setiap masyarakat harus mempunyai system yang mengatur kendalinya dan dapat mewujudkan keadilan diantara individu individu-nya.
       Umat manusia telah mengenal di sepanjang masa sejarah, berbagai macam doktrin, pandangan, system dan tasyri’(perundang undangan) yang bertujuan tercapainya kebahagiaan individu di dalam masyarakat yang utama. Namun tidak satupun daripadanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai Qur’an dalam kemukjizatan tasyri’-nya.
       Qur’an juga telah menetapkan perlindungan terhadap lima macam kebutuhan primer bagi kehidupan manusia, jiwa, agama, kehormatan, harta benda dan akal. Dan menerapkan padanya hukuman-hukuman yang pasti yang dalam fikih islam dikenal dengan jinayat dan hudud.

A.    Bukti Ilmiah kemukjizatan AlQur’an dalam sejarah
       Disamping Al-Qur’an ditinjau dari segi bahasanya yaitu suatu mukjizat yang besar, maka dari isinya ia mengandung mukjizat pula. Contohnya :
1.      Beberapa pemimpin quraisy telah berkumpul untuk merundingkan cara agar menundukkan Rasullullah. Akhirnya mereka sepakat untuk mengutus Abdul Walid, seorang sastrawan Arab yang jarang ada bandinganya, kemudian ia mengajukan kepada Rasullullah saw agar berdakwah dengan menjanjikan pangkat dan harta, Setelah Rasullullah mendengar ucapan Abdul Walid itu, kemudian beliau membawakan kepadanya surat (41) funshilat dari awal sampai akhir. Abdul Walid pun terlihat amat tertatrik dan terpesona mendengarkan ayat itu sehingga ia termenung-menung memikirkan keindahan bahasanya, kemudian ia meninggalkan Rasullullah tanpa sepatah kata pun. Kemudian Abdul Walid berkata kepada kaumnya. “Sungguh aku belum pernah mendengarkan kata kata yang seindah itu, itu bukanlah syair,bukan pula sihir dan bukan pula kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya Al-Qur’an itu ibarat pohon yang daunya rindang, akarnya terhunjam kedalam tanah. Susunan kata nya manis dan bukanlah buatan dari manusia”. Mendengar jawaban itu kaumnya pun menuduh Abdul Walid telah berkhianat, dan cenderung kepada agama islam.
2.        Mengenai reaksi ahli syair  dan sastra terhadap tantangan Al-Qur’an, mereka bungkam dalam seribu Bahasa, tak ada yang berani tampil ke muka, karena memang tidak sanggup dan takut mendapat cemooh dan hinaan. Memang banyak diantara pemimpin pemimpin dan ahli sastra arab yang mencoba dan meniru Al-Qur’an bahkan kadang-kadang ada yang mendakwah nya dirinya sebagai nabi seperti Musailimah al Kazzab Thulaihah, Habalah bin Ka’ab dan lain lain. Tetapi mereka itu semuanya menemui kegagalan, bahkan mendapat cemooh dan hinaan dari masyarakat.
Syekh Muhammad Abdul dalam kitabnya “Rasaalatut Tauhid” menerangkanbagaimana ketinggaian dan kemajuan Bahasa di masa turunnya AlQur’an : “Al-Qur’an diturunkan pada suatu masa yang telah sepakat ahli-ahli riwayat mengatakan, bahwa masaitu adalah masa yang amat gemilang ditinjau dari segi kemajuan Bahasa dan pada masa itu banyak sekali terdapat ahli-ahli sastra dan ahli-ahli pidato”. Kemudian ia berkata mengenai tantangan Al-Qur’an terhadap ahli-ahli sastra : “Benarlah bahwa Al-Qur’an itu suatu mukjizat. Telah berlalu masa yang panjang, telah silih berganti datangnya angkatan demi angkatan, tantangan Al-Qur’an tetap berlaku, tetapi tak seorang pun yang dapat menjawabnya, semua kembali dengan tangan hampa karena lemah dan tidak berdaya”. Bukannya lahirnya kitab Al-Qur’an ini, dibawa oleh seorang yang buta huruf, suatu mukjizat yang terbesar yang membuktikan bahwa ia bukanlah buatan manusia. Memang ia adalah suatu mukjizat yang membuktikan kebenaran Nabi Muhammad saw. Dan Nur yang terpancar  dari ilmu illahi”.

3.      Di dalam Al-Qur’an terdapat berita-berita dan janji-janji mengenai masa yang akan datng. Kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan adalah di luar kekuasaan manusia untuk mengetahuinya. Memang ada ramalan- ramalan tukang tenung mengenai masa depan, tetapi itu hanya ramalan yang tiada dapat dijamin kebenaranya, tetapi semua berita-berita dan janji-janji yang tersebut dalam Al-Qur’an adalah benar dan telah menjadi kenyataan seperti : kerap kali kaum musyrikin mekkah sebelum hijrah menantang kaum muslimin dan mengatakan : “Bangsa Rum yang mempunyai kitab injil telah dikalahkan oleh orang Persia (waktu itu menganut agama Majusi)”. Maka kami pasti akan mengalahkan kamu, karena kamu adalah ahli kitab pula. Kemudian turunlah surat (30) Ar Rum ayat 2.
4.      Di dalam Al-Qur’an  terdapat pula fakta fakta ilmiah yang tidak mungkin diketahui manusia di tanah arab pada waktu itu, tetapi fakta-fakta tersebut dijelaskan dengan tepat dan sekarang diakui kebenaranya seperti : Pada masa turunnya Al-Qur’an ilmu kedokteran di Tanah Arab boleh dikatakan tidak ada, yang ada hanya ilmu pengobatan secara primitive dan takhayul. Namun demikian Al-Qur’an menerangkan dalam surat (23) Almu’minun ayat 12,13 dan 14. Pada mulanya ahli-ahli ilmu falaq menetapkan bahwa matahari tetap, tidak berjalan (beredar) dan hanya bumilah yang beredar di sekeliling matahari, tetapi Al-Qur’an menegaskan bahwa matahari juga berjalan. Dalam surat (36) Yasin ayat 38   “Dan matahari itu beredar ditempat daerah oeredaranya. Demikianlah ketetapan dari yang mahaperkasa dan yang lagi maha mengetahui”.



B.     Kebenaran Al-Qur’an tentang Laut, Matahari, dan Gunung

1.      Tentang laut
      Temuan-temuan sains tentang lautan, ternyata telah diungkapkan oleh Alquran sejak 15 abad yang lalu. Simaklah Surat An Nahl (16) ayat 14.
"Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar, dan kamu mengeluarkan dari lautan perhiasan yang kami pakai. Kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya supaya kamu bersyukur".

Atau Q.S. Fatir(35) ayat 12 berikut:
 “Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.”
Atau Q.S Almaidah ayat 96
 “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah dan  sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan“
Sejak 15 abad yang lalu Al Quran berbicara soal manfaat laut bagi peningkatan taraf hidup manusia. Kini terbukti, negara-negara yang pandai memanfaatkan potensi lautnya, bakal mendapat kekayaan yang sangat berlimpah. Kemudian juga Selain mengandung banyak makanan, dan perhiasan, laut juga bisa menyimpan banyak bahan tambang, bisa menjadi jalur transportasi yang murah, dan sebagainya. Selain menjadi bukti kuat bagi keaslian Al-Quran, laut juga menjadi sumber penghidupan yang sangat kaya. Keberadaan wilayah laut, bisa menjadi salah satu penentu tingkat ekonomi sebuah negara.
Seharusnya Indonesia sebagai negara kepulauan, jangan pernah menyia-nyiakan sumberdaya lautnya. Allah telah memerintahkan kita untuk mencari (keuntungan) dari karuniaNya yang berupa lautan dan segala sumberdayanya ini, baik itu ikan, perhiasan (mutiara, kerang-kerangan, dll), dan bahkan memanfaatkan laut untuk transportasi.
Ayat ini seharusnya dibaca dan diresapi maknanya secara mendalam oleh seenap bangsa Indonesia dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dengan mendepankan penegelolaan sumberdaya kelautan sebagai tiang utama peekonomian Indonesia.
Hal yang menarik adalah ketika kita coba membuka Al-Quran surat An-Nur (surat ke-24) ayat 40.
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (Al Qur'an, An-Nuur (24):40)
Kegelapan dalam lautan dan samudra yang dalam dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali.Namun, pernyataan "gelap gulita di lautan yang dalam" digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Qur’an, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.
2.      Tentang Gunung
      Menggambarkan bahwa gunung mempunyai akar yang berada  tepat  pada     bawah permukaan bumi kita yang berfungsi juga sebagai pasak.
أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا 
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS.An-Naba’: 6-7)
Al-Qur’anul karim telah menggambarkan keberadaan alam semesta ini dan menyeru agar manusia menggunakan pikirannya untuk merenungkan ciptaan Allah. Al-Qur’an telah menyajikan ilustrasi penciptaan pegunungan yang berdiri kokoh diatas bumimdan lautan yang terbentang. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :  
وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan Dia  (Allah )menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk”. (QS An Nahl: 15
. Teori lempeng tektonik menyebutkan, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu. Penemuan ini juga semakin memperkuat kebenaran Al-Qur’an QS. Al Anbiya: 31.

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ ﴿٣١

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk” (QS. Al Anbiya: 31)

Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, “… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan kemudian bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing.
Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan kemudian sampai dengan perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar yang berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.

3.      Tentang Matahari

Al-Qur’an menggambarkan matahari dan bulan kemudian menjelaskannya sebagai hubungan yang saling berkait dengan bumi dan kehidupan manusia :

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”.

Dan ayat :

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِي
     “Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari”.

      Wahai orang-orang yang berpengetahuan! kitab yang menjelaskan mengenai tentang pengetahuan ini, ada bersamamu. Yang berasal dari Allah yang Maha Mengetahui, Maha melihat. Dia mengetahui apa yang turun ke bumi dana pa aja yang keluar darinya, apa aja yang turun dari langit dan apa-apa yang naik. 
   
                                                                    BAB 2
                                                               PENUTUP
   
A.    Kesimpulan

        Al –Qur’an adalah mukjizat dan tak ada bandingannya dalam semua aspek. Ia tidak akan bisa dipalsukan, baik itu secara Bahasa maupun ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga tidak bisa dipalsukan dalam aspek, itu menjelaskan bahwa Al-Qur’an memang dari Allah. Al-Qur’an persis seperti apa yang telah dijelaskan :

“Keajaibannya tak terbatas dan mengandung penjelasan untuk segala hal yang menyangkup aspek pengetahuan, social, dan lingkup lainnya”.

     Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an menjelaskan secara gamblang. Bahwa Al-Qur’an juga memiliki melodi indah yang mampu menawan hati dan telinga siapapun yang mendengar serta menjadikannya kokoh di dalam hati nurani manusia dengan petunjuknya. Seorang pelajar muslim juga harus berusaha sungguh-sungguh untuk mempelajari kisah umat-umat terdahulu serta berbagai peristiwa melalui ilmu sejarah.



                                                            Daftar Pustaka

Abidin, Zainal. Seluk Beluk Al-Qur’an. Jakarta : Rineka Cipta, 1992.
Ahmad, Yusuf Al-Hajj. Mukjizat Yang Tak Terbantahkan. Solo : Aqwam Media Profetika, 2016.
Aziz, Moh.Ali. Mengenal Tuntas Al-Qur’an. Surabaya : Imtiyaz, 2019. 
Hafidz, Wajuhudin. Misi Al-Qur’an. Jakarta : Imprint Bumi Aksara, 2016.
Hamzah, Muchotob. Studi Al Qur’an.
Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media, 2003.
Qathan, Manna’ Khalil. Study Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor : Litera AntarNusa, 2026
Sa’di, Syaikh Abdurrahman. Bacalah Al-Qur’an Seolah-olah Ia Diturunkan Kepadamu. Jakarta : Mizan Publika, 2018.
Yusuf, Kadar M. Studi Al-Qur’an. Jakarta : Amzah, 2014.



[1] Drs. Zainal Abidin S, Seluk Beluk Al-Qur’an , Jakarta, Rineka Cipta, 1992, cet. Pertama, hlm 98-99
[2] Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Bogor, Litera AntarNusa, 2009, cet. Ke-3, hlm 394 [3] Drs. Zainal Abidin S, Seluk Beluk Al-Qur’an , Rineka Cipta, 1992, cet. Pertama, hlm 101-103
[4] Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Al-Qur’an Yang tak Terbantahkan, Aqwam Media Profetika, 2018,cet. Ke IV, hlm 16
[5] Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Al-Qur’an  Yang Tak Terbantahkan, Aqwam Media Profetika, 2018, cet .Ke IV, hlm 16

Pendalaman dan Training Terapi Shalat Bahagia  Surabaya, 23 November 2019 Nama : Ulum Nafi’ah Prodi : Ilmu Komunikasi ...